Seumur hidup, saya adalah seorang penjelajah — dan saya beruntung tumbuh dalam keluarga yang mengutamakan pengalaman mengunjungi destinasi baru sejak kecil. Kini, giliran keponakan saya. Di usianya yang baru dua tahun, ia telah menginjakkan kaki di tujuh negara, dan sedang menapaki jalan untuk menjadi warga dunia.

Meskipun bepergian bersama buah hati di usia berapa pun sering kali terasa menantang, para ahli meyakini bahwa hal tersebut dapat mendorong perkembangan mereka secara signifikan. Perjalanan mampu memperluas wawasan anak, menumbuhkan rasa empati terhadap perbedaan budaya, serta melatih mereka beradaptasi dengan situasi baru. Bahkan bagi bayi sekalipun, perjalanan dapat membentuk perkembangan bahasa mereka sejak dini.

"Mereka akan mulai mempelajari cara membangun hubungan yang bermakna, terutama di tengah perbedaan, sejak usia dini," ujar Dr. Robin Hancock, pakar pendidikan global dari Bank Street College, kepada Travel + Leisure. "Wisata memiliki potensi untuk menciptakan narasi baru yang mengajarkan anak-anak tentang kesamaan dengan sesama [dan] meletakkan fondasi yang kokoh, khususnya di tahun-tahun awal pertumbuhan... Kita memiliki kesempatan untuk membesarkan generasi yang tahu cara hidup berdampingan dan harmonis satu sama lain."

Family at airport

Saya pernah menyaksikan keponakan saya mencicipi kacang untuk pertama kalinya di La Guarida, Havana—ia mengambil dan mengamati tiap butirnya dengan saksama, seolah sedang melakukan pengujian penting. Saya juga melihatnya mencelupkan kaki ke Laut Mati (lalu menariknya kembali dengan cepat!), hingga menikmati gelato di bawah kemegahan Duomo, Florence.

Ia mungkin belum bisa mengingat petualangan ini, namun menurut Hancock, setiap momen akan membentuk tumbuh kembangnya. Masa perkembangan otak yang paling pesat terjadi di lima tahun pertama kehidupan anak, terutama pada tiga tahun pertama. Dengan memperkenalkan anak sejak lahir hingga usia tiga tahun kepada lingkungan yang beragam, kita 'menormalkan' perbedaan sebagai bagian dari pengalaman hidup mereka.

“Mengajak anak menjelajahi dunia dan memahami peran global mereka sejak kecil akan tertanam kuat hingga dewasa. Kebiasaan yang dimulai sejak dini bukan sekadar memori, melainkan fondasi yang membentuk sudut pandang mereka terhadap dunia selamanya.”

"Tahukah Anda? Traveling bersama si kecil sejak usia 6 bulan dapat menstimulasi kemampuan bahasa mereka. Hal ini didukung oleh pakar komunikasi dari Columbia University, Erika Levy, yang menyatakan bahwa perjalanan membantu perkembangan linguistik anak secara nyata."

“Tahukah Anda? Bayi memiliki kemampuan unik untuk menyerap semua bunyi bahasa di dunia, namun kemampuan ini akan hilang seiring bertambahnya usia. Menurut Levy, dengan mengekspos anak pada beragam bahasa sejak dini, kita membantu 'mengunci' kemampuan tersebut agar mereka lebih mudah belajar bahasa saat dewasa nanti. Jangan lewatkan masa keemasan ini!”

Menurut Hancock, pengalaman yang didapat selama perjalanan akan terus terbawa hingga mereka pulang, bahkan menjadi modal berharga bagi prestasi mereka di sekolah.

“Hal ini membuat mereka lebih terbuka untuk mencoba hal-hal baru [dan] tidak terlalu waswas terhadap orang atau situasi yang terasa asing bagi mereka,” ujarnya. “Secara otomatis, ini akan memupuk sikap terbuka pada anak dan menghapus prasangka.”

Inilah beberapa tips jitu agar si kecil mendapatkan pengalaman terbaik dan tak terlupakan selama perjalanan.

Jelajahi kehangatan lingkungan setempat.

Melihat ikon wisata utama di sebuah destinasi memang luar biasa, namun berjalan-jalan di lingkungan lokal bisa menjadi salah satu momen paling berkesan bagi anak-anak," ujar Hancock. Otak anak cenderung membangun koneksi berdasarkan hal-hal yang terasa akrab bagi mereka. “Jika Anda di Venesia, nikmatilah Grand Canal; jika di Paris, luangkan waktu di Menara Eiffel. Namun, momen yang benar-benar membekas bagi anak-anak adalah pengalaman yang bisa mereka hubungkan dengan kehidupan nyata,” tambahnya. “Akan terasa jauh lebih bermakna bagi anak Anda jika Anda mencari lingkungan yang tenang dan sekadar berjalan kaki... Di sana, Anda pasti akan melihat warga yang menyapu halaman atau pedagang lokal. Itu jauh lebih berarti — Anda dan anak Anda akan mendapatkan potret nyata tentang seperti apa kehidupan sehari-hari di sana

Ciptakan tradisi baru di setiap liburan Anda.

Tradisi dapat membantu anak-anak merasa lebih terhubung dengan sebuah perjalanan. Sebagai contoh, saat masih kecil, saya dan saudara perempuan saya mengoleksi botol soda dari setiap negara yang kami kunjungi. 'Tradisi sangatlah bermakna bagi anak-anak,' ungkap Hancock. 'Apa pun yang dapat dikaitkan kembali dengan dunia anak akan menjadi pengalaman yang berkesan bagi mereka.

Ajak si kecil menjalin pertemanan baru dan bermain bersama dengan ceria!

Menyatukan anak-anak dengan teman seusianya akan membantu perkembangan mereka, meski mereka tidak berbicara dalam bahasa yang sama,” menurut Levy. “Biarkan mereka bertemu anak-anak lain — mereka akan bermain, belajar, dan menemukan cara sendiri untuk berkomunikasi,” ujarnya. “Dan mereka akan menyadari bahwa tidak semua orang berbicara bahasa Inggris.

Level up perjalananmu! Ubah setiap rute jadi permainan.

Sembari mengajak anak-anak menunjukkan hal-hal baru di mata mereka, Levy menyarankan: 'Mintalah mereka menunjukkan tiga benda yang belum pernah mereka temui di rumah.' Ia menambahkan, 'Anda bisa mengemasnya menjadi sebuah petualangan mencari harta karun bagi mereka.

Berikan awal terbaik bagi si kecil dengan persiapan lebih dini.

Menurut Levy, mempersiapkan anak-anak menghadapi pengalaman baru akan membawa dampak yang besar. Misalnya, jelaskan jauh-jauh hari mengenai jet lag, atau jika mereka merasa cemas, bawalah mainan favorit ke dalam pesawat. Namun pada akhirnya, Anda tidak perlu terlalu khawatir: Levy menyebutkan bahwa anak-anak cenderung 'lebih mudah beradaptasi dibandingkan kita saat menghadapi situasi baru.

Spread the love